Kamis, 23 Februari 2012

OBJEK WISATA & TEMPAT MENARIK DI KAB.MAROS

Objek Wisata & Tempat Tempat menarik Di Kabupaten Maros.


Maros adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyimpan keanekaragaman daya tarik alam dan budaya yang patut untuk anda kunjungi, seperti Air terjun Batimurung dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah daftar beberapa tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi :


Air Terjun Batimurung.

Air Terjun Batimurung.


Kawasan ini terletak di lembah bukit kapur / karas yang curam dengan vegetasi tropis yang subur, sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal bagi berbagai spesies kupu-kupu, burung dan serangga endemik yang langka. Selain air terjun dan keanekaragaman spesies kupu-kupu yang menarik, juga terdapat sebuah gua yang menarik untuk anda kunjungi. Tempat ini terdapat di Kabupaten Maros.


Taman Prasejarah Leang-Leang.

Taman Prasejarah Leang-Leang.


Juga terletak pada deretan bukit kapur yang curam. Para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat di area ini pernah dihuni oleh manusia purba sekitar 3000 – 8000 tahun sebelum masehi, ditandai dengan terdapatnya lukisan-lukisan pra sejarah yang terdapat di dinding gua berupa gambar babi rusa, dan gambar telapak tangan. Selain itu juga ditemukan benda laut berupa karang yang menandakan bahwa gua tersebut pernah tenggelam dan dikelilingi oleh lautan. Taman Prasejarah Leang-Leang
Terdapat di Kabupaen Maros.

OBJEK WISATA & TEMPAT MENARIK DI KAB.WAJO

Objek Wisata & Tempat Tempat menarik Di Kabupaten Wajo.


Wajo merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyimpan potensi objek wisata baik alam maupun budaya yang tinggi. Wajo berarti bayangan atau bayang bayang (wajo-wajo).Kata Wajo dipergunakan sebagai identitas masyarakat baru 605 tahun yang lalu yang merdeka dan berdaulat dari kerajaan-kerajaan besar pada saat itu.

Berikut ini adalah daftar beberapa tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi :



Danau Tempe.

Danau Tempe.


Perkampungan nelayan bernuansa Bugis berderet di sepanjang tepi danau. Dari daerah ketinggian, danau tempe tampak bagaikan sebuah baskom raksasa yang diapit oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng dan Sidrap. Terletak di Kecamatan Tempe, sekitar 7 Km dari kota Sengkang menuju tepi sungai Walanae.


Agro Wisata Sutera.

Agro Wisata Sutera.


Di tempat ini pengunjung dapat menyaksikan proses penanaman tanaman murbei yang merupakan makanan pokok dari ulat sutera, cara pemeliharaan ulat sutra, proses pemintalan ulat sutra sampai dengan cara penenunan kain sutra. Terletak di Kecamatan Sabbang Paru, sekitar 10 Km sebelah selatan kota Sengkang.

OBJEK WISATA & TEMPAT MENARIK DI KAB.BULUKUMBA

Objek Wisata & Tempat Tempat menarik Di Kabupaten Bulukumba.


Bulukumba adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyimpan keanekaragaman daya tarik alam dan budaya yang patut untuk anda kunjungi, seperti pantai Tanjung bira, Tempat pembuatan perahu tradisional khas pelaut-pelaut Bugis dan kawasan adat Ammatoa.

Berikut ini adalah daftar beberapa tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi :



Pantai Tanjung Bira.

Pantai Tanjung Bira.


Di sepanjang pantai terdapat pasir putih yang halus, pengunjung juga dapat menikmati keindahan 2 pulau yang ada didepannya yaitu pulau Liukang loe dan pulau Kambing (tidak berpenghuni), dan pada latar belakangnya tampak membumbung tinggi gunung Puang Janggo dengan ketinggian melebihin 400 Meter. Terletak di Kecamatan Bonto Bahari, sekitar 45 Km dari kota Bulukumba. Tempat ini telah dilengkapi fasilitas berupa tempat parkir, penginapan, hotel, restaurant dan lain-lain.

Tana Beru, Tempat Pembuatan Perahu Tradisional.

Tana Beru, Tempat Pembuatan Perahu Tradisional.


Tana Beru terkenal sebagai tempat pembuatan kapal / perahu tradisional. Anda akan merasa kagum melihat kepiawaian masyarakat membuat kapal tradisional dengan konstruksi kayu dan peralatan tradisional pula. Terletak di pesisir pantai kelurahan Tana, sekitar 24 Km dari kota Bulukumba.



Kawasan Adat Ammatoa.

Kawasan Adat Ammatoa.


Keindahan alam berupa kelestarian kawasan hutan merupakan ciri dari kawasan adat ini, serta budaya hidup masyarakatnya yang jauh dari pola hidup modern. Ciri masyarakat kajang yang ada di Desa Tana Toa yang tampak sehari-hari yaitu pakaian dengan warna serba hitam, sedangkan ciri bangunan rumahnya ialah seragam menghadap ke Utara. Masyarakatnya dipimpin oleh seorang yang bergelar Amma Toa dengan masa kepemimpinan seumur hidup. Terletak di Kecamatan Kajang, sekitar 56 Km dari kota Bulukumba.



Taman Bersejarah Baru Pake Gojeng.

Taman Bersejarah Baru Pake Gojeng.


Bebatuannya dihormati sebagai obyek yang unik semenjak terungkap adanya kehidupan masa lampau sesuai dengan usia batu tersebut. Dibuktikan dengan adanya 11 makam dari 90 buah batu pahat berlubang yang pernah digunakan untuk keperluan masyarakat pada masa itu. Terletak di kelurahan Biri Ngere, Kecamatan Sinjai Utara sekitar 2 Km dari kota Sinjai.

Rabu, 15 Februari 2012

MENIKMATI INDAHNYA KOTA WISATA MALINO KAB.GOWA

Menikmati Indahnya Kota Wisata Malino - Kota wisata Malino yang terletak 90 km arah Selatan Kota Makassar ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Menikmati indahnya Kota wisata Malino. Merupakan salah satu obyek wisata alam yang memiliki daya tarik tersendiri. Malino layaknya seperti kawasan puncak Bogor ataupun Bandung. Menikmati indahnya Kota wisata Malino. Di kawasan wisata Malino sendiri, terdapat hutan wisata, berupa pohon pinus yang tinggi berjejer di antara bukit dan lembah. pemandangan disini begitu menawan dan indah, itulah sebabnya setiap Akhir pekan Kota Wisata Malino ramai dikunjungi terutama para turis lokal yang berasal dari kota Makassar. Menikmati indahnya kota wisata Malino.
Pintu Gerbang Sebelum Memasuki Kota Wisata Malino

Jalan menanjak dan berkelok-kelok dengan melintasi deretan pegunungan dan lembah yang indah bak lukisan alam, akan mengantarkan Anda ke kota Malino. Kawasan tersebut terkenal sebagai wisata sejak zaman penjajahan Belanda. Banyak pengunjung yang datang baik dari Kota Makassar maupun dari daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan, dari seluruh Indonesia bahkan banyak juga touris Mancanegara, untuk mendapatkan tempat rekreasi dan refreshing yang aman, terutama pada saat weekend atau liburan. Sebelum muncul nama Malino, dulu rakyat setempat mengenalnya dengan nama kampung ‘Lapparak’. Laparrak dalam bahasa Makassar berarti datar, yang berarti pula hanya di tempat itulah yang merupakan daerah datar, diantara gunung-gunung yang berdiri kokoh. Terletak di ketinggian antara 980-1.050 DPL.
Salah Satu Sudut Jalan Menuju Kota Wisata Malino

Kota Malino mulai dikenal dan semakin popular sejak zaman penjajahan Belanda, lebih-lebih setelah Gubernur Jenderal Caron pada tahun 1927 memerintah di “Celebes on Onderhorighodon” telah menjadikan Malino pada tahun 1927 sebagai tempat peristirahatan bagi para pegawai pemerintah dan siapa saja dari pemerintah warga kota Makassar sanggup dan suka membangun bungalow atau villa di tempat sejuk itu.
Prasasti Malino 1927

Sebelum memasuki kota Malino, terdapat sebuah tembok prasasti di pinggir jalan dengan tulisan: MALINO 1927. Tulisan tersebut cukup jelas dan seketika itu pula dapat dibaca setiap orang yang melintas di daerah itu, namun prasasti ini dijahili oleh tangan-tangan vandalis.
Malino 1927 bukan berarti Malino baru dikuasai Belanda pada tahun itu. Jauh sebelumnya, Belanda sudah berkuasa di wilayah Kerajaan Gowa, terutama setelah pasca Perjanjian Bungaya 18 November 1667. Disini juga pernah diadakan Konferensi Malino yang dilaksanakan Mulai tanggal 15 - 25 Juli 1946, yang diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Dr. H.J. van Mook membicarakan dan menggagas pendirian Negara Indonesia Timur (NIT). Juga pernah dilaksanakan perjanjian perdamaian Malino I dan Malino 2 yang diprakarsai oleh HM. Jusuf Kalla.
Sejak zaman kerajaan, Malino atau Laparrak hanya terdiri dari hutan belantara, di dalam wilayahnya terdapat beberapa anak sungai yang semuanya bermuara pada Sungai Jeneberang.
Waktu kecil saya mendengar kota Malino sebagai tempat wisata yang terfavorit di Sulawesi Selatan . Pertama kesana waktu saya masih kelas III SMA, tahun 2003 silam, saya dan beberapa teman SMA, termasuk my love saat itu ke Malino untuk berwisata sehabis ulangan semester. Kami naik mobil Sewaan dari Makassar ke Malino. Tiba di Malino kami langsung ke Hutan Wisata Malino, disana kami menikmati indahnya panorama alam wisata Malino, ditambah dengan syahdunya romantika cinta saya kepada my love waktu itu (jadi teringat lagi kisah cinta di SMA, meskipun cinta kami kini telah kandas).
Terakhir saya kesana sehabis lebaran lalu, saya kesana tampa my love-my love lagi, tapi benar-benar ingin berekreasi menikmati indahnya Malino. Untuk menuju ke Malino sarana dan prasarananya bisa dibilang cukup memadai. Kita bisa ambil mobil angkot (pete-pete) atau mobil panther. Cukup banyak mobil yang lalu-lalang kesana yang senantiasa menunggu baik di terminal Malengkeri, maupun di terminal Sungguminasa. Akses kesana pun semakin dekat, karena sudah ada jalan tembus Antang langsung ke Bili-bili, meskipun sekarang ini, jalan tersebut masih dalam tahap perbaikan.
Air Terjun Jonjo

Sawah Penduduk Yang Menghijau

Jembatan Menuju Kampung Jonjo

Saya waktu ke Malino baru-baru ini memilih naik sepeda motor, karena ingin menjelajahi pelosok-pelosok alam Wisata Malino. Obyek wisata yang saya datangi yang pertama adalah air terjun Jonjo. Air terjun ini punya kekhasan tersendiri dibanding air terjun Takapala yang dikenal pada umumnya oleh wisatawan. Air terjun Jonjo ini terletak di seberang sungai Jeneberang. Di air terjun ini kita juga bisa menikmati areal persawahan sengkedan yang menghijau milik penduduk Desa Jonjo. Jarak dari kota malino ke Jonjo kir-kira 10 KM.
Setelah puas menikmati kealamian air terjun Jonjo, saya pun kemudian meluncur kembali ke Kota Malino. Sebelum memasuki gerbang kota Malino, saya singgah di lubang-lubang penghadangan (bungker) tentara Jepang. Sejak kedatangan Balatentara Dai Nippon ke Makassar pada tahun 1942 daerah Malino ikut di duduki oleh Jepang dengan alasan bahwa daerah ini strategis dan merupakan penghasil sayur-mayur untuk logistik Balatentara Dai Nippon. Makanya disepanjang jalan menuju kota Malino terdapat bungker-bungker penghadangan dan pertahanan dari serangan sekutu. Sayang… bungker-bungker Jepang ini tidak terawat dan dibiarkan terbengkalai. Bahkan akibat dari perluasan jalan, banyak bungker yang sudah tidak berbekas lagi. Peninggalan Jepang lainnya adalah gudang senjata dan Rumah Sakit Kaigumbioying dan Markas Tentara (SMP Negeri 1 Tinggimoncong sekarang).
Salah Satu Bungker Peninggalan Jepang di Malino

Setelah dari bungker Jepang, saya meluncur ke kebun teh Malino yang berjarak kurang lebih 9 KM dari kota Malino. Kebun teh ini dikelola oleh orang Jepang. Namun saat ini nampaknya kebun teh Malino tidak terawat lagi. Disamping kebun teh juga terdapat kebun strawbery, disini pengunjung bisa singgah menikmati wisata alam Malino serta memetik dan menikmati buah strawbery. Letak kedua obyek wisata ini tedapat di desa Bulutana kecamatan Tinggi Moncong kabupaten Gowa.
Pemandangan Alam di Kebun Teh Malino

Tempat Parkir Yang Unik di Kebun Teh Malino

Waktu itu sudah jam 12 siang wita, saya kemudian kembali lagi ke Kota Malino, saya singgah di hutan wisata Malino. Disini sudah ramai oleh wisatawan. Yang khas disini adalah wisata menunggang kuda. Penduduk asli Malino dengan sabar menunggui para wisatawan yang mau sekedar mencoba menunggang kuda. Tarifnya pun terbilang ekonomis, Rp. 10.000 satu kali naik kuda dengan mengelilingi hutan wisata Malino. Takut nanti kudanya ngamuk??? Tenang, pemilik kuda dengan sabar dan telaten akan mengarahkan kudanya.
Penduduk Yang Menyewakan Kudanya Untuk di Tunggangi


Mencoba Menunggangi Kuda

Tak jauh dari hutan wisata Malino. Terdapat pasar wisata Malino. Disini dijual beraneka rupa produk hasil Malino, sayur-mayur, buah-buahan dan yang terkenal tenteng kacang dan tenteng markisa Malino, adapun handycraft yang bisa dibawah pulang adalah kembang Edelweys yang diambil langsung dari puncak gunung Bawakaraeng. Dan sekarang sudah dijual dipasar ini baju kaos yang bercorak khas Malino hasil kreasi dari anak-anak muda kreatif Malino.
Salah Satu Stand Yang Menjual Markisa di Pasar Wisata Malino

Tenteng Kacang Penganan Khas Malino

Baju Kaos Hasil Kreasi Anak-anak Muda Malino


Mengenai akomodasi di kota wisata Malino ini boleh dibilang sudah memadai, kita tinggal pilih vila atau bungalow, diantaranya Barugaya (Mess Pemprov Sulsel), Restoran, Pesanggrahan dan MEPB (PLN sekarang). Harganya bervariasi mulai dari kelas eksekutif sampai kelas rakyat lengkap di Kota wisata Malino
Salah Satu Villa di Malino

Sebenarnya masih banyak tempat wisata Malino yang menarik lainnya, diantaranya Lembah Biru, wisata kuliner dengan menu ikan bakar, Pesanggrahan Malino yang legendaris, gedung bekas Konferensi Belanda , pabrik pengolahan Jamur dan Sereh, rumah adat (balla lompoa) di Bulutana, wisata mendaki ke puncak gunung Bawakaraeng. Namun karena waktu itu sudah sore, saya kemudian meluncur kembali ke kota Makassar. Suatu saat bila tiba musim liburan lagi, saya akan kembali ke kota wisata Malino, menikmati sejuknya alam, menikmati indahnya panorama gunung-gunung yan berdiri kokoh dan indahnya ngarai-ngarai yang menganga.
Pemandangan di Puncak Gunung Bawakaraeng

Air Terjun Takapala Malino

Salah Satu Sudut Kota Sejuk Malino

Buat yang ingin berwisata ke Malino, silahkan berkunjung ke sana, dengan ramah penduduk disana akan menerima Anda. Di samping Malino Anda juga dapat mengunjungi Bantimurung di Maros, wisata budaya di Toraja, wisata Pantai Pasir Putih di Bira Bulukumba; wisata menyelam di Taka Bonerate Selaya, kota Anging Mamiri Makassar, dan banyak lagi tempat-tempat wisata lainnya di Sulawesi Selatan. Bagi yang ingin melihat panduannya secara lengkap tentang wisata daerah ini, silahkan klik DISINI.
Tapi satu pesan saya, bila ke Sulawesi Selatan, jangan lupa berwisata ke Malino, menikmati indahnya panorama alam yang mempesona dan mengesankan.

MAKAM SULTAN HASANUDDIN



Makam Sultan Hasanuddin

Makam Sultan Hasanuddin , obyek wisata sejarah terletak di komplek pemakaman raja-raja Gowa di Katangka Somba Opu Gowa Sulawesi Selatan. Di tempat yang sama dimakamkan pula Sultan Alauddin (Raja yang mengembangkan agama Islam pertama di Kerajaan Gowa) dan disebelah kiri depan komplek makam, terdapat lokasi tempat pelantikan raja Gowa yang bernama Batu Pallantikan.
Akses ke kawasan Makam Sultan Hasanuddin sangat dekat dari Kota Makassar ,menggunakan kendaraan darat 30 menit

Makam Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1629 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 ) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.

Diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.

Sultan Hasanuddin putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.

Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

Sultan Hasanuddin lahir tahun 1629, menjadi raja tahun 1652, meletakkan jabatan tahun 1668 dan wafat tanggal 12 Juni 1670. ( catatan di Makam Sultan Hasanuddin) ,Dimakamnya jg tertera nama Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe Mohammad Bakir yang merupakan nama kecil Sultan Hasanuddin.


Selasa, 14 Februari 2012

RANGKUMAN SEJARAH TERBENTUKNYA KERAJAAN GOWA " SEKARANG DI SEBUT KABUPATEN GOWA "


Sebelum Kerajaan Gowa terbentuk, terdapat 9 (sembilan) Negeri atau Daerah yang masing-masing dikepalai oleh seorang penguasa yang merupakan Raja Kecil. Negeri ini ialah Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling dan Sero. Pada suatu waktu Paccallayya bersama Raja-Raja kecil itu masygul karena tidak mempunyai raja, sehingga mereka mengadakan perundingan dan sepakat memohon kepada Dewata agar menurunkan seorang wakilnya untuk memerintah Gowa.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1320 (Hasil Seminar Mencari Hari Jadi Gowa) dengan diangkatnya Tumanurung menjadi Raja Gowa maka kedudukan sembilan raja kecil itu mengalami perubahan, kedaulatan mereka dalam daerahnya masing-masing dan berada di bawah pemerintahan Tumanurung Bainea selaku Raja Gowa Pertama yang bergelar Karaeng Sombaya Ri Gowa.


Raja kecil hanya merupakan Kasuwiyang Salapanga (Sembilan Pengabdi), kemudian lembaga ini berubah menjadi Bate Salapang (Sembilan Pemegang Bendera).

Masa Kerajaan


Pada tahun 1320 Kerajaan Gowa terwujud atas persetujuan kelompok kaum yang disebut Kasuwiyang-Kasuwiyang dan merupakan kerajaan kecil yang terdiri dari 9 Kasuwiyang yaitu Kasuwiyang Tombolo, Lakiyung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling, dan Sero.

Pada masa sebagai kerajaan, banyak peristiwa penting yang dapat dibanggakan dan mengandung citra nasional antara lain Masa Pemerintahan I Daeng Matanre Karaeng Imannuntungi Karaeng Tumapa’risi Kallonna berhasil memperluas Kerajaan Gowa melalui perang dengan menaklukkan Garassi, Kalling, Parigi, Siang (Pangkaje’ne), Sidenreng, Lempangang, Mandalle dan lain-lain kerajaan kecil, sehingga Kerajaan Gowa meliputi hampir seluruh dataran Sulawesi Selatan.


Di masa kepemimpinan Karaeng Tumapa’risi Kallonna tersebutlah nama Daeng Pamatte selaku Tumailalang yang merangkap sebagai Syahbandar, telah berhasil menciptakan aksara Makassar yang terdiri dari 18 huruf yang disebut Lontara Turiolo.


Pada tahun 1051 H atau tahun 1605 M, Dato Ribandang menyebarkan Agama Islam di Kerajaan Gowa dan tepatnya pada tanggal 9 Jumadil Awal tahun 1051 H atau 20 September 1605 M, Raja I Mangerangi Daeng Manrabia menyatakan masuk agama Islam dan mendapat gelar Sultan Alauddin. Ini kemudian diikuti oleh Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka dengan gelar Sultan Awwalul Islam dan beliaulah yang mempermaklumkan shalat Jum’at untuk pertama kalinya.


Raja I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Muhammad Bakir Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI dengan gelar Ayam Jantan dari Timur, memproklamirkan Kerajaan Gowa sebagai kerajaan maritim yang memiliki armada perang yang tangguh dan kerajaan terkuat di Kawasan Indonesia Timur.


Pada tahun 1653 – 1670, kebebasan berdagang di laut lepas tetap menjadi garis kebijaksanaan Gowa di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin. Hal ini mendapat tantangan dari VOC yang menimbulkan konflik dan perseteruan yang mencapai puncaknya saat Sultan Hasanuddin menyerang posisi Belanda di Buton.


Akibat peperangan yang terus menerus antara Kerajaan Gowa dengan VOC mengakibatkan jatuhnya kerugian dari kedua belah pihak, oleh Sultan Hasanuddin melalui pertimbangan kearifan dan kemanusiaan guna menghindari banyaknya kerugian dan pengorbanan rakyat, maka dengan hati yang berat menerima permintaan damai VOC.


Pada tanggal 18 November 1667 dibuat perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Bungaya (Cappaya ri Bungaya). Perjanjian tidak berjalan langgeng karena pada tanggal 9 Maret 1668, pihak Kerajaan Gowa merasa dirugikan. Raja Gowa kembali dengan heroiknya mengangkat senjata melawan Belanda yang berakhir dengan jatuhnya Benteng Somba Opu secara terhormat. Peristiwa ini mengakar erat dalam kenangan setiap patriot Indonesia yang berjuang gigih membela tanah airnya.


Sultan Hasanuddin bersumpah tidak sudi bekerja sama dengan Belanda dan pada tanggal 1 Juni 1669 meletakkan jabatan sebagai Raja Gowa ke XVI setelah hampir 16 tahun melawan penjajah. Pada hari Kamis tanggal 12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin mangkat dalam usia 36 tahun. Berkat perjuangan dan jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara, maka dengan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973 tanggal 16 Nopember 1973, Sultan Hasanuddin dianugerahi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.




MUSEUM BALLA LOMPOA SUNGGUMINASA KAB.GOWA SULAWESI SELATAN


Museum Balla Lompoa merupakan rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, pada tahun 1936. Dalam bahasa Makassar, Balla Lompoa berarti rumah besar atau rumah kebesaran. Arsitektur bangunan museum ini berbentuk rumah khas orang Bugis, yaitu rumah panggung, dengan sebuah tangga setinggi lebih dari dua meter untuk masuk ke ruang teras.

Seluruh bangunan terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. Bangunan ini berada dalam sebuah komplek seluas satu hektar yang dibatasi oleh pagar tembok yang tinggi. Bangunan museum ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu ruang utama seluas 60 x 40 meter dan ruang teras (ruang penerima tamu) seluas 40 x 4,5 meter. Di dalam ruang utama terdapat tiga bilik, yaitu: bilik sebagai kamar pribadi raja, bilik tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, dan bilik kerajaan. Ketiga bilik tersebut masing-masing berukuran 6 x 5 meter. Bangunan museum ini juga dilengkapi dengan banyak jendela (yang merupakan ciri khas rumah Bugis) yang masing-masing berukuran 0,5 x 0,5 meter.
Museum ini berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda Kerajaan Gowa. Benda-benda bersejarah tersebut dipajang berdasarkan fungsi umum setiap ruangan pada bangunan museum. Di bagian depan ruang utama bangunan, sebuah peta Indonesia terpajang di sisi kanan dinding. Di ruang utama dipajang silsilah keluarga Kerajaan Gowa mulai dari Raja Gowa I, Tomanurunga pada abad ke-13, hingga Raja Gowa terakhir Sultan Moch Abdulkadir Aididdin A. Idjo Karaeng Lalongan (1947-1957). Di ruangan utama ini, terdapat sebuah singgasana yang di letakkan pada area khusus di tengah-tengah ruangan. Beberapa alat perang, seperti tombak dan meriam kuno, serta sebuah payung lalong sipue (payung yang dipakai raja ketika pelantikan) juga terpajang di ruangan ini.









Museum ini pernah direstorasi pada tahun 1978-1980. Hingga saat ini, pemerintah daerah setempat telah mengalokasikan dana sebesar 25 juta rupiah per tahun untuk biaya pemeliharaan secara keseluruhan. Keistimewaan
Museum Balla Lompoa menyimpan koleksi benda-benda berharga yang tidak hanya bernilai tinggi karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena bahan pembuatannya dari emas atau batu mulia lainnya. Di museum ini terdapat sekitar 140 koleksi benda-benda kerajaan yang bernilai tinggi, seperti mahkota, gelang, kancing, kalung, keris dan benda-benda lain yang umumnya terbuat dari emas murni dan dihiasi berlian, batu ruby, dan permata. Di antara koleksi tersebut, rata-rata memiliki bobot 700 gram, bahkan ada yang sampai atau lebih dari 1 kilogram. Di ruang pribadi raja, terdapat sebuah mahkota raja yang berbentuk kerucut bunga teratai (lima helai kelopak daun) memiliki bobot 1.768 gram yang bertabur 250 permata berlian. Di museum ini juga terdapat sebuah tatarapang, yaitu keris emas seberat 986,5 gram, dengan pajang 51 cm dan lebar 13 cm, yang merupakan hadiah dari Kerajaan Demak. Selain perhiasan-perhiasan berharga tersebut, masih ada koleksi benda-benda bersejarah lainnya, seperti: 10 buah tombak, 7 buah naskah lontara, dan 2 buah kitab Al Quran yang ditulis tangan pada tahun 1848.

Lokasi
Museum Balla Lompoa berada di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48 Sungguminasa, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Akses
Museum ini terletak di Kota Sungguminasa yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum, baik roda empat maupun roda dua.

Akomodasi dan Fasilitas
Di dalam komplek, tersedia pelayanan jasa guide yang akan memberikan informasi kepada pengunjung tentang museum itu sendiri dan segala sesuatu yang berkaitan dengan koleksi benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya.